Mobil punya potensi lebih cepat, tapi cenderung melambat

Well judul artikel ini mungkin membingungkan buat pembaca :D ini adalah unek-unek EYD yang setiap hari memperhatikan lalu lintas di Jakarta.Di awal ini EYD mendikte bahwa sumber kemacetan yang utama memang adalah pengendara roda empat.

OK begini analisanya, perhatikan jika di lalu lintas dimanapun tidak hanya di Jakarta, pengendara mobil lebih suka memacu kendaraannya lebih pelan, padahal jalur di depannya itu cukup kosong. Tidak hanya kendaraan tertentu seperti Bis dan Truk, kendaraan pribadipun terlebih-lebih angkutan umum semaunya melajukan kendaraannya sangat pelan (kecepatan < 40km/j), padahal mestinya melihat jalur di depannya yang kosong setiap pengendara mobil bisa memacu kendaraannya lebih cepat misal 60km/j.

Kenapa hal seperti ini cukup mendapat perhatian EYD? Yup, kalau mas bro merasakan sendiri kita sebagai pengendara motor, cukup kesel jika kita harus tersendat di belakang kendaraan roda 4, padahal kita melihat jalur di depannya itu kosong. Ini tentu memicu pengendara sepeda motor untuk melakukan aksi overtaking, aksi mendahului ini justru membuat kendaraan lain di belakang (semisal mobil yang lebih cepat) terhambat dan mungkin berpotensi kecelakaan. Namun yang pasti ulah sebagian besar pengendara mobil yang suka melambat ini cukup signifikan membuat kemacetan di jalan.

Bagi pengendara mobil, jika ditanya kenapa gak maju cepat kendaraannya padahal di belakang jadi tersendat? Jawabannya mungkin terlalu banyak alasan, namun intinya EYD bisa menyimpulkan biasanya pengendara mobil takut kalau kencang menimbulkan kecelakaan, atau alasan klasik lainnya, takut mobilnya lecet, dan sebagainya.

Secara psikologis biker kalau melihat ada mobil melaju kencang (normal) tidak mungkin biker berani overtake kendaraan tersebut karena biker sadar jika sampai tersenggol maka sudah pasti tau siapa yang celaka. Pengendara motor malah senang kalau melihat mobil di depannya itu melaju kencang (normal) dan pasti setia tetap berada di belakangnya.

Last, ini semua butuh kesadaran pengendara roda empat khususnya untuk bisa merubah prilaku berkendaranya agar bisa toleransi dengan pengendara di belakangnya yang membutuhkan waktu. Siapa sih yang mau kemacetan, sekali lagi kita sama-sama telah melakukan kewajiban membayar pajak, janganlah prilaku di jalan raya agak cuek, egois dengan mengambil hak jalan pengendara lain yang membutuhkannya. Next artikel akan membahas bagaimana konsep jalanan protokol Ibukota yang tertib, aman dan lancar, stay tuned.

This entry was posted in Regulasi and tagged . Bookmark the permalink.

0 Responses to Mobil punya potensi lebih cepat, tapi cenderung melambat

  1. man says:

    saya selain memakai R2 juga memakai R4.
    mengemudi mobil di jakarta jarang ngebut atau melakukan akselerasi dengan cepat, toh di depan juga ngerem lagi alias macet. selain hemat bbm, hemat kampas rem, juga untuk kenyamanan penumpang karena kita ga sendirian didalam mobil.

    beda dengan mengendarai motor apalagi matic, pelintir gas ya sesuka udel saya aja, lowong dikit masuk, selap selip kanan kiri, ciiit pencet rem bisa berhenti dengan cepat. mobil ya ga bisa gitu masbro.

    saya kasih contoh, mengemudi mobil ugal2an di jakarta apalagi dikemacetan bisa digebukin warga. mengendarai motor ugal2an di jakarta bisa2 aja, senggol sana sini main kabur aja, siapa yang mau ngejar.

    kalo lihat contoh gambar yang masbro sajikan, mungkin dalam pikiran pengemudi mobil hampir sama dengan saya, buat apa nambah kecepatan atau melakukan akselerasi dengan cepat, toh didepan juga macet, ini juga bukan jalan tol yang minimum kec 60kmh.

    biar lambat asal selamat.
    piss masbro…

  2. J_loman says:

    saya pengguna mobil dan motor di daerah bandung.

    saya mengendarai motor & mobil dengan kecepatan biasa-biasa aja, ga kurang ga’ lebih.

    tpi ketika saya mengendarai mobil sya sering sedikit kesal dengan pengendara mobil lain bukan motor.

    maklum mobil saya tuir, tpi tingkah laku mobil2 model terbaru yg sering buat saya kesal, & membuat saya memacu mobil dengan cepat.

    padahal biasanya saya mengendarai mobil dengan kecepatan biasa2 aj.

    Jarak main aman mobil disamakan dengan kecepatan, maka bila kecepatan 40km/j jarak adalah 4 meter.

    pernah ketika di jalur cepat saya dipepet 1 meter pada kecepatan 85km/j padahal klo mau nyusul gampang aja gk usah mepet tinggal sen kurangi kecepatan, toh jalur sebelah kiri pun kosong.

    yg perlu diperhatikan adalah “Empati”, bnyak yg menyalah gunakan teknologi. sperti mobil pake ABS maka dari itu ia memacu kendaraannya dngan memepet kendaraan yg didepannya dengan jarak antara 1 meter pdahal kecepatan bisa lebih dari 80 KM.

    inget, “Jaga Jarak” 40kpj = 4 meter, 80Kpj = 8 meter.

  3. J_loman says:

    @J_loman – oiya tambahan bukan saya egois di jalur tengah tpi bila saya ambil kecepatan 80km/jam pada jalur kiri sngat membahayakan, karena banyak titik pemindahan jalur.

  4. jiban says:

    ane stuju bgt sama om man
    gaya nyetir mobil gk bisa disamain sama motor gan
    mobil gk bs akselerasi tiba2, berat gan, boros bensin
    mobil juga gk bs rem tiba2, beban berat

    okelah kalo motor mo >60, ada halangan tinggal liat spion, buang ke kanan ato kiri, sloooor jalan lagi
    bayangin aj gan kalo mobil, >60 ada halangan tiba2, mo buang setir? mikir 3x gan

    ane rider mobil dan motor, dan ane gk perna nyamain cara nyetir keduanya gan

    beda jauh

    • EYD says:

      artikel ini sebenernya buat menyindir mobil yang melambat tidak pada tempatnya, dimana jalanan di depannya lowong dan aman untuk bergerak lebih cepat, akumulasi mobil-mobil yang melambat inilah turut andil menjadi biang kemacetan :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *