Menggapai Sholat Khusyu’ (bagian 2)

Well selama 2 hari ini karena kesibukan EYD tidak sempat posting artikel, alhamdulillah Jumat ini EYD bisa melanjutkan menulis artikel kelanjutan dari Jumat kemarin tentang bagaimana menggapai shalat khusyu’.

Kita lanjut ke langkah kedua untuk menggapai shalat khusyu’, yakni “Pada Saat Shalat”. Untuk mendapatkan ke-khusyu’an dalam shalat haruslah kita menguasai ilmu tentang shalat secara mendalam. Allah SWT menyebutkan dalam surat Al-Isra’ 17:36 berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya”

Ilmu tentang shalat meliputi: syarat dan rukun shalat, yang membatalkan shalat, sunah-sunah dalam shalat, hal-hal yang dimakruhkan dalam shalat, perkara yang dibolehkan dalam shalat, teratur dalam bacaan dan gerakan shalat, mengerti dan memahami makna yang dibaca pada saat shalat, zikir setelah shalat yang sesuai syar’i dan aplikasi nilai-nilai shalat di dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Termasuk usaha agar khusyu’ dalam salat hendaklah mengerti dan memahami makna yang dibaca pada saat menegakkan shalat. Hal tersebut merupakan perkara yang mutlak sebagaimana Allah berfirman dalam surat an-Nisa’ (4:43)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. Jangan pula hampiri masjid sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci) Sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah maha pemaaf lagi maha pengampun.”

Upaya selanjutnya agar mendapatkan shalat khusyu’ adalah senantiasa menegakkan shalat dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi sakit, musafir, dan sibuk. Misalnya ketika mas bro sedang berada di dalam kendaraan, entah itu mobil, kereta api, kapal laut atau pesawat, harus tetap menegakkan shalat. Caranya adalah dengan melakukan tayamum di dalam kendaraan kemudian mengerjakan shalat. Jadi apapun kondisi kita, shalat harus tetap ditegakkan terus menerus tidak terputus hanya karena alasan tertentu, perlu diingat ibadah shalat tidak bisa diganti seperti ibadah-ibadah lainnya.

Bagi kita kaum laki-laki sangat dianjurkan untuk menegakkan shalat secara berjamaah. Shalat yang ditegakkan secara berjamaah  setara dengan 27 derajat dibanding shalat sendirian. Seperti pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari (194-256 H) hadits nomor 689:

“Dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya aku mengetahui dan melihat dari apa yang kamu perbuat, karenanya shalatlah kalian wahai manusia di rumah kamu, karena seafdhal-afdhalnya shalat adalah shalatnya seseorang di rumahnya kecuali shalat fardu (shalat 5 waktu).

Last, bagaimana dengan kaum wanita? Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Daud (202-275H) hadits nomor 483:

“Dari Abdullah, dari Nabi bersabda, ‘Shalatnya seorang wanita adalah di rumahnya, dan seafdhal-afdhal shalatnya wanita adalah shalat di kamarnya”.

Sekian dulu satu dua ayat yang bisa EYD sampaikan berkaitan dengan bagaimana menggapai shalat yang khusyu’, artikel selanjutnya nanti kita bahas bagaimana langkah “Sesudah Shalat”, stay tuned.

This entry was posted in Artikel Religi, Mengaji and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *