Menggapai Sholat Khusyu’ (bagian 3 – selesai)

Pembaca sekalian, artikel ini adalah bagian akhir dari tema menggapai shalat khusyu’. Jika mas bro belum mengikuti artikel sebelumnya bisa klik bagian pertama dan bagian kedua.

Mari kita lanjutkan ke bagian terakhir dari artikel ini, yakni bagaimana harusnya amalan yang dilakukan “setelah shalat”. Yang pertama adalah mengamalkan dzikir setelah shalat

Berdzikir atau membaca bacaan setelah mengerjakan shalat merupakan rangkaian dari shalat khusyu’. Namun perlu ditekankan bacaan yang dibaca harus yang benar-benar bersumber dari hadits yang shahih begitu pula dengan cara membacanya.

Seorang muslim yang kaffah tidak akan meninggalkan amalan dzikir, kecuali apabila ada keperluan yang sangat penting. Jika tidak ada kepentingan yang mendesak dan tidak melakukan dzikir setelah shalat, maka dapat dikategorikan kedalam ciri-ciri orang munafik. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud ria dengan shalat itu di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” QS. an-Nisa (4:142)

Yang kedua bagaimana mengamalkan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi penting untuk diperhatikan dalam shalat yang khusyu’ adalah aplikasi nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari. Yakni memelihara nilai-nilai shalat dari perbuatan fahsya dan prilaku munkar. Allah menjelaskan dalam Al-Quran:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” QS. al-Ankabut (29:45).

Perbuatan fahsya adalah apa saja yang berhubungan dengan penyelewengan seksual, seperti pornografi, pornoaksi, pamer aurat, perzinahan dan perselingkuhan. Perbuatan munkar adalah apa saja yang bersifat pelanggaran terhadap syari’at (ajaran agama Islam), seperti mencuri, menipu, memfitnah, korupsi, kolusi dan membunuh. Kesemuanya itu harus dihindari sebagai konsekwensi orang yang sudah menegakkan shalat secara khusyu’.

Lalu bagaimana jika ada seseorang rajin mengerjakan shalat, tetapi rajin maksiat, pamer aurat, hobi berzina, pintar korupsi, tekun berjudi dan sebagainya? Kesemuanya itu menunjukkan bahwa shalatnya adalah shalat yang Sahun. Nauzubillahiminzalik.

Sekian dulu artikel Jumat mengenai bagaimana menggapai shalat khusyu’. Semoga kita bisa semakin meningkatkan ikhtiar maksial dalam mencapai shalat yang khusyu’ dalam setiap melakukan shalat. Semoga berguna…

This entry was posted in Artikel Religi, Mengaji and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *