Cermin Pekerja Jakarta yang berdomisili di Bogor

Judul artikel di atas EYD buat sebenarnya untuk menggambarkan kondisi EYD pribadi yang merupakan salah satu dari sekian banyak pekerja/karyawan yang memiliki aktivitas pekerjaan di Jakarta namun bertempat tinggal di luar kota, dan dilakoni dengan berkendara sepeda motor. Bagaimana sih rasanya riding 100km per hari Cibinong Jakarta hanya untuk menjalani keseharian aktivitas bekerja di kota Jakarta. Tentunya habit rutinitas yang seperti ini memiliki resiko dan catatan tersendiri bagi seorang EYD.

Gambaran kondisi pagi, dikala matahari mulai menampakkan sinarnya, pukul 05.30wib EYD mulai berangkat. Yup dengan tujuan titik Monas lalu beralih ke kawasan Kuningan Barat itu hampir menempuh jarak 50km. Dengan tipikal kemacetan kota Jakarta di jam-jam tersebut EYD sukses tiba di parkiran kantor kurang lebih pukul 07.30wib. Beuh hanya untuk menempuh 50km butuh 2 jam? Bener juga kata Eyang Edo bahwa kecepatan rata-rata berkendara di Jakarta hanya mampu meraih 25km per jam, miris.

Bagaimana dengan pulangnya, ini lebih miris lagi. Tak terasa ternyata butuh waktu yang lebih gila lagi hanya untuk melakukan perjalanan ke rumah. Bro sis mau tebak berapa jam yang dibutuhkan EYD untuk bisa tiba dirumah? Yup 3.5 jam itu sudah waktu paling cepat versi EYD. Dimulai dari keluar kantor jam 17.00wib, sepanjang perjalanan harus berhenti 2-3x untuk mengejar sholat Maghrib berjamaah dan dilanjut 1 jam berikutnya bertemu dengan sholat Isya berjamaah. Memang konsistensi terhadap sholat berjamaah (bagi kaum laki-laki) tetap EYD jaga selama 1 tahun belakangan, so memang imbasnya mengorbankan jam berkendara di atas sepeda motor yang bertambah lama. It’s OK. Tepat jam 20.30wib atau kurang lebih EYD barulah tiba di rumah.

Nah kalau dihitung-hitung memang jam berkendara keseharian EYD hanya untuk berangkat dan pulang kerja sepertinya di atas normal. Berangkat 2 jam, pulang 3,5 jam, itu dengan sepeda motor, bagaimana pula kalau dengan kendaraan roda empat…hadeuh, gak kebayang bro sis, tua di jalan istilahnya. Dengan gambaran durasi berkendara di atas mungkin sebagian bro sis berpikiran, kenapa gak pindah kerja yang lebih dekat aja mas. Hadeuh..tentang pekerjaan, berpikiran untuk izin tidak masuk barang sehari karena keperluan pribadi saja gak pernah terlintas bro sis, EYD kudu tuker dengan jatah cuti tahunan. Apalagi berpikiran resign, hm..gak pernah kepikiran sama sekali. EYD sudah klop dengan suasana tempat kerja EYD sekarang, istilahnya sudah Dedicated :D

Atau gimana dengan solusi naik transportasi publik? Halah..seandainya saja tempat tinggal EYD dekat dengan stasiun kereta, okelah EYD mau beralih, but sayangnya tidak bro sis. Kalau disuruh naik Bis AC/angkutan umum lainnya, bisa hitung sendiri deh perbedaan waktu yang signifikan pasti akan lebih lambat. Gak make sense kalau menurut  EYD. So untuk kebanyakan biker luar kota yang mencari nafkah di Jakarta seperti EYD ini sepeda motor masih menjadi solusi total sarana transportasi. Alhamdulillah didukung dengan hobi dan jiwa EYD yang menyukai dunia riding sepeda motor, kenikmatan berkendara justru selalu EYD rasakan kesetiap harinya yang mungkin bagi sebagian orang lain itu adalah menyiksa badan, dll.

Yang terakhir mungkin dan menjadi catatan EYD pribadi, dengan aktivitas berlama-lama riding setiap hari seperti itu apakah ada efeknya nanti bagi kesehatan jangka panjang. Okelah kita masih muda masih merasakan kuat, tangguh menghadapai segala medan jalanan dengan sepeda motor, tapi apakah ini bagus buat kesehatan. Pastinya dalam berkendara pun EYD sudah melengkapi dengan perlindungan masker dan rompi pelindung dada. EYD sadari itu makanya setiap weekend pagi (Sabtu-Minggu) EYD sempatkan berlari pagi keluar dari komplek perumahan. Namun dirasakan olahraga lari ini masih kurang EYD rasakan, pengen rasanya main badminton lagi. Bagi bro sis yang punya jadwal badminton hari Sabtu atau Minggu pagi boleh dunk infokan ke EYD, EYD ingin join :D

Last sekian dulu unek-unek EYD di hari Jumat ini, inti pesan dari artikel ini cuman satu, EYD pengen Badminton :D

This entry was posted in Dunia Motor, Inspirasi and tagged . Bookmark the permalink.

0 Responses to Cermin Pekerja Jakarta yang berdomisili di Bogor

  1. Tjile says:

    wah sama2x comutter kita nih….tp rumah ane deket stasiun KRL jadi tinggal jalan…tp emang kondisi jalanan makin macet..tetap semangat bro

  2. athar says:

    ckckckckckck…..
    jkt-cibinong tiap hari…??? ckckckck
    dedicated ama apa nih mas?
    kata orang, love your job, not your company (Kalo bukan milik sendiri).
    kalo ada apa2(semoga enggak) apa mereka (teman2, perusahaan) mau ikut tanggung jawab..?/seberapa jauh tanggung jawabnya…?
    ‘cos in the end, you’re on your own…
    maaf bukan menggurui/ato sok tahu…
    maaf kalo kurang berkenan, sekedar share pengalaman…

    • EYD says:

      Setuju mas bro, dedicated disini terhadap kepercayaan orang/perusahaan memberikan amanah ke EYD menempati posisi jabatan. Syukurnya EYD memang kadung enjoy dengan job skrg, sangking nyamannya tak terasa disinilah tempat kerja EYD terlama dibandingkan sebelumnya..lah jadi keterusan nih curcolnya

  3. gasfuel says:

    parah jg ya kemacetan di jakarta,,

  4. Basho says:

    Mantap. Konsistensi melaksanakan shalat berjama’ah di masjid bisa meminimalisir stress selama perjalanan, sekaligus juga sebagai olahraga relaksasi dan peregangan bagi tubuh yang kaku selama riding. Jangan lupa minum air kelapa muda atau susu murni minimal seminggu sekali bro. Sekedar untuk proses detoksifikasi buat tubuh yang sering terpapar polusi kendaraan bermotor di jalan raya

    • EYD says:

      iya bro, gerakan sholat secara berjamaah memang ada nilai olahraganya bagi tubuh, terbukti setelah ba’da Isya sepanjang jalan kantuknya hilang

  5. mazhar says:

    Apa gak cari kost yang dekat dengan tempat kerja aja…

    • EYD says:

      setelah 10 tahun bercita-cita punya rumah sendiri dan akhirnya kesampaian, maka sekarang tinggal menikmati walau dapetnya jauh dari Jakarta, kalau kost jadinya gak menikmati :)

  6. yandhi says:

    A’ mau nanya,,
    Saya org crb yg kerja d jkt,
    Bln ini saya mau bayar pajak motor plat E di itc cibinong yg katanya bisa bayar di sana,
    Saya minta tolong petunjuk jalan dari kost saya di daerah cililitan jkt timur ke itc cibinong,,
    Tolong di bantu,
    Thanks

    • EYD says:

      Kl dari Cililitan jalannya mudah.lurus saja terus ikuti jl. Raya Bogor start dari Kramat Jati – Cijantung – Cimanggis – Cilangkap baru deh flyover Cibinong.dr situ sudah dekat tanya aja di daerah situ untuk ke ITC

  7. kalau naik mobil tinggal maasuk tol om….bogor arah jakarta gk macet kok pagi

  8. Abu Atha says:

    Saya jg Cibinong dekat Cilangkap Om… Jam 05:15 pagi sy udah tancep gas.
    Tapi naik mobil. .. masuk Tol Cilangkap via tol Jagorawi, lalu masuk ke Tol JOR arah Cipete Fatmawati. Bermacet ria di fatawati dan Jam 6:45/ 07:00 udah sampe di Kantor Blok M.

    Pulangnya 17:15:
    Dari blok M, masuk ke jalan Antasari, lewat bawah aja jangan lewat flyover atas. kalo lewat atas rawan macet. lalu masuk Tol Ampera JOR, masuk tol Jagorawi & exit di pintu tol cimanggis/cikeas lanjut arah cilangkap – jam 19:00 dah sampe rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *