Ronda malam, upaya mempererat silaturahim yang mulai ditinggalkan

Ronda Malam

Salam sejuta umat, sekali-kali bahas lingkungan sekitar. Yup tinggal di perumahan tidak serta merta memvonis EYD sebagai salah satu warga di komplek yang acuh tak acuh dengan lingkungan. Sadar dengan anggapan kebanyakan masyarakat tentang hidup di komplek, EYD coba menerjunkan diri menjadi pengurus. Dengan minimal aktif jadi jajaran pengurus harapannya bisa mengenal semua warga baik yang sudah lama maupun yang baru pindah.

Di perumahan EYD yang tergolong masih baru sejak 2010 wabil khusus blok tempat EYD tinggal yang baru dihuni warga sejak akhir 2011 baru sanggup mengadakan 2 tenaga sekuriti untuk jaga malam. 2 sekuriti bertugas bersama setiap malam, mendapat jatah libur saat malam minggu. Di malam minggu itulah kegiatan pengamanan lingkungan dibackup oleh warga yang diawal-awal sudah sepakat melakukan kegiatan ronda.

Ronda Malam

Awalnya ronda yang disepakati dimaksudkan agar warga bisa saling mengenal, maklum bro sis perumahan baru. Awalnya sih berjalan ramai sesuai harapan, warga bisa saling kenal. Namun seiring perjalanannya setelah setahun lebih berjalan mulai terlihat kesadaran beberapa warga untuk menjalankan kewajiban ronda berkurang drastis kalau EYD mau bilang. Yang rajin ya tetep rajin, yang males dan gak sadar-sadar ya tetep gak pernah nongol. Padahal setiap kepala keluarga cuma diminta 1x saja dalam sebulan untuk ikut ronda.

Ada wacana seiring kemampuan kas bertambah pengurus lingkungan akan coba menambah 2 tenaga sekuriti lagi. Salah satu maksud adalah untuk meniadakan ronda yang dilaksanakan setiap malam minggu oleh warga yang dievaluasi selama setahun terakhir ternyata tidak efektif. Yaa..ini masih sekedar wacana belum terealisasi, namun bagi EYD pribadi yang menyukai kegiatan ronda ini, semestinya kegiatan ronda terus dilaksanakan karena manfaat yang didapat. Adapun jika ingin menambah sekuriti, bisa dialokasikan untuk jaga standby di siang hari.

Kegiatan ronda menurut pendapat EYD, memiliki nilai-nilai kebaikan di jaman yang serba modern dan serba sibuk, setiap kepala keluarga maupun anak muda yang berbaur bisa saling bertemu dan mengenal, bertukar cerita dan pengalaman hidup yang ujung-ujungnya bisa memupuk kekompakan dan rasa saling memiliki perumahan tempat tinggal berada. Tak dipungkiri aktivitas masing-masing personal yang super sibuk, pergi kerja di waktu gelap hingga pulang kerja saat matahari sudah terbenam hampir-hampir tidak ada alokasi waktu untuk sesama warga bertemu, bersenda gurau sekedar untuk silaturahim atau saling menjalin keakraban antar tetangga. Contohnya EYD yang berangkat kerja jam 6 kurang, sampai di rumah rata-rata sudah jam 9 malam. Satu-satunya media atau kegiatan yang bisa menampung kebutuhan sosial untuk bercengkrama dengan tetangga ya lewat ronda itu.

Intinya jangan karena merasa masih sehat, punya kecukupan materi ogah berbaur dengan warga lain. Sangat kontras terlihat saat ada warga yang sakit atau anggota keluarganya ada yang meninggal meminta tolong ke pengurus untuk pengurusan jenazah  atau lain sebagainya. Di kalah ditimpa musibah baru deh ketauan wajah-wajah yang selama ini tidak pernah berbaur terlihat menampakan diri memohon bantuan. Seandainya saja dari awal mau berbaur entah itu melalui kegiatan ronda atau ikut pertemuan warga, pengajian bulanan, pasti warga lain yang membantu pun dengan senang hati dan ikhlas memberikan bantuan. Tapi karena baru kali ini kenal, rasanya gimana gitu membantu warga yang masih asing gak pernah terlihat :)

Last semua kembali ke pribadi masing-masing juga akhirnya, kalau background personalnya dari awal memang tidak suka berbaur (hidup menyendiri, red) ya mau tinggal dimanapun habitnya gak akan berubah. Mau tinggal di perumahan elit, di perkampungan atau perumahan sederhana pasti sama saja tabiatnya. Perlu tausiah agama masuk ke relung hati warga model begini, mereka harus sadar hidup tidak melulu hubungan kita dengan yang di-Atas atau ke rekan-rekan bisnis di kantor, hubungan dengan warga lain khususnya tetangga sendiri harus dijaga dan dibina. Karena jika terjadi apa-apa dengan diri dan keluarga kita, siapa lagi yang memberikan pertolongan pertama kalau bukan tetangga. Wes, artikel curcol ini mulai ngelantur kepanjangan, monggo dikomentari bagi bro sis yang tinggal sama dengan EYD di perumahan, gimana rondanya apakah berjalan?

This entry was posted in Artikel Religi, Inspirasi and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ronda malam, upaya mempererat silaturahim yang mulai ditinggalkan

  1. ronda itu bagus, tapi rasanya aneh kalo anak mudanya ngumpul sama bapak2

  2. archnine says:

    pengalaman juga ketika setelah menikah. mau tidak mau, harus jadi kepala RT (bukan Pak RT), nah disini senengnya ada kumpulan bapak2 tiap sebulan sekali dan ronda tiap malam minggu. dan saya jadi yang paling muda hahaha.. (kangen suasana di kontrakan lama) :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *