Belajar sedikit tentang komputasi awan: Cloudflare Free (bag. 1)

Cloud Computing

[Pengantar]

Salam sejutaumat, mas bro sekalian lanjut artikel dunia komputer yang sudah lama jarang EYD angkat. Kali ini coba memperkenalkan (bagi mas bro yang belum mengenal) teknologi awan yang kini semakin ngetrend menjadi standar baru akan kebutuhan layanan content delivery yang reliable anywhere, baik untuk sekedar layanan data storage maupun layanan delivery aplikasi perusahaan yang berjalan di atas infrastruktur Cloud. Sebenarnya apa sih teknologi Cloud itu? Yuk pelan-pelan kita bahas.

Cloud atau komputer awan adalah teknologi dimana sebuah data atau sebuah aplikasi tersimpan di banyak komputer (server) yang tersebar di beberapa lokasi berbeda namun berada dalam satu jaringan content delivery network (CDN). Contoh gampangnya adalah layanan Dropbox yang sering kita gunakan untuk penyimpanan data online, infrastruktur server penyimpanannya bisa terdiri dari puluhan server yang tersebar di berbagai lokasi datacenter berbeda di seluruh belahan dunia. Tujuannya satu, cloud menjamin ketersediaan data/layanan aplikasi terhadap user kapanpun dan dimanapun tanpa downtime signifikan.

Bisa digambarkan di model server konvensional yang terdiri dari sebuah server fisik yang berada dalam sebuah datacenter. Jika server mengalami gangguan entah itu crash HDD maupun masalah jaringan, dapat dipastikan content di dalam server tidak dapat diakses alias mengalami downtime yang cukup lama, ya itu tadi karena servernya tidak bisa diakses dan hanya satu-satunya. Di era serba online sekarang, kalau downtime 30 menit mungkin bisa ditawar, tapi kalau harus mengalami downtime berjam-jam nampaknya sudah tidak bisa diterima dan dapat ber-impact terhadap bisnis yang dijalankan.

Begitu juga dalam hal pengadaan perangkat server konvensional, selain hitungannya lebih mahal teknologi konvensional juga semakin tidak efisien karena harus terpotong oleh waktu untuk setup server mulai dari belanja server, install OS dan control panel, setup di datacenter baru deh kemudian bisa upload aplikasi untuk dapat dijalankan. Banyak waktu terkuras hanya untuk pengadaan server sendiri dengan teknologi konvensional tadi.

Bagi pengembang aplikasi pun begitu kendalanya jika menggunakan teknologi konvensional, katakanlah sedang mendevelop aplikasi yang sesuai dengan arsitektur tertentu. Harus ada alokasi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli unit server testing guna melakukan trial and error aplikasi yang dibangun. Ironisnya saat aplikasi dinyatakan running well dan compatible, unit server testing tadi malah gak digunakan. Harus menggunakan server baru untuk server produksi. Begitu juga saat ada project pengembangan aplikasi lain yang berbeda arsitektur, maka keluar lagi budget untuk beli hardware yang sesuai aplikasi. Bisa dilihat betapa kurang efisiensinya biaya untuk pengembangan aplikasi jika menggunakan model konvensional ini.

Cloud Computing

Contoh di atas adalah beberapa contoh case yang menjadi pertimbangan kenapa teknologi komputasi awan (cloud) ini  dibutuhkan. Efisiensi adalah salah satu hal yang ditawarkan oleh teknologi Cloud, percaya gak bahwa ada layanan cloud yang berbayarnya hanya per jam, alias 1 jam pakai ya bayar cukup 1 jam. Contoh sederhananya begini, ada pengembang ingin mempresentasikan aplikasinya kepada kliennya, katakanlah aplikasinya yang sudah didevelop khusus untuk arsitektur tertentu. Karena ini aplikasinya berjalan online, seorang pengembang tidak membutuhkan hosting, karena dia hanya butuhkan pada saat hari itu saja untuk presentasi. So karena si pengembang sudah melek akan Cloud, dia tau ada salah satu provider Cloud yang menyediakan layanan Cloud sewa per jam. Kemudian dia pun bayar layanan Cloud untuk 3 jam ke depan, setelah mendapat informasi aktivasi dia pun sudah mendapatkan sebuah server virtual yang spesifikasinya sesuai dengan requirement aplikasinya. So langsung upload, configure dan bim salabim, Live! Presentasi ke klien pun dapat dijalankan pada saat itu juga.  Simpel bukan, tak perlu report punya hosting atau report menyiapkan server yang memakan waktu dan biaya lebih.

Cakupan artikel ini tidak akan membahas Cloud yang bener-bener premium yang biasa dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar, namun lebih pengenalan Cloud untuk cakupan personal yang bisa dicoba dan dirasakan sendiri oleh kita dalam level end user. Coba deh EYD bertanya ke mas bro sekalian yang sering pakai Dropbox atau layanan email di Gmail, bagaimana uptime garansi aplikasi dan lalu lintas email yang mas bro rasakan, cepat dan selalu tersedia bukan. Itulah yang dirasakan end user tanpa tau infrastruktur dibalik teknologi informasi tersebut. Dibalik layar ternyata mesin servernya berpuluh-puluh yang tersebar di berbagai benua. Jika salah satu server mengalami gangguan dalam sebuah jaringan CDN, maka request user akan diteruskan ke another server yang berada di tempat lain.

Wis  ini baru artikel pengantar tapi kok kepanjangan, intinya ini baru pengenalan secara umum. Secara khusus EYD ingin memperkenalkan salah satu layanan Cloud yang bisa dimanfaatkan untuk kita segmen personal, Cloudflare Free adalah salah satunya. Monggo sebelum beranjak ke artikel Cloudflare bagian kedua, silahkan kunjungi dulu www.cloudflare.com, kalau ada pertanyaan bisa isi di kolom komentar.

This entry was posted in Internet Networking and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

0 Responses to Belajar sedikit tentang komputasi awan: Cloudflare Free (bag. 1)

  1. sinjo says:

    om kalo google drive itu juga masuk cloud kah? maaf newbie gaptek.

  2. Pingback: Lanjutan tentang komputasi awan: Cloudflare Free (bag. 2) : Warung Sejutaumat

  3. haris smk58 says:

    tutorial bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *