Mengaji: Zakat melatih bathin memiliki sense terhadap kebersihan harta

zakat profesi

Salam sejutaumat bagi mas bro sekalian, btw sudah lama gak menulis artikel mengaji, kali ini EYD ingin mengulas tentang salah satu keutamaan ibadah zakat yang bisa EYD share sebagai ajakan sekaligus berbagi pengalaman hidup terkait zakat ini.

Intermezo sedikit, zakat ada banyak jenisnya namun EYD lebih tertarik untuk mengulas zakat profesi karena rata-rata kita adalah statusnya yang karyawan. Simpelnya untuk zakat profesi ini diambil 2,5% dari penghasilan yang kita terima setiap bulan sehabis gajian. Walau ada perbedaan cara pengeluarannya kapan, bagi EYD pribadi yang lebih mudahnya adalah langsung dikeluarkan begitu kita menerima gaji.

Apa sih esensinya kita harus mengeluarkan zakat penghasilan atau profesi ini? Silahkan bisa mencari dalil-dalil yang shohih untuk zakat ini karena disini EYD tidak akan membahas dari segi dalil-dalilnya, EYD belum kompeten ke arah sana. Tapi yang ingin ditekankan dalam konteks artikel ini adalah bahwa setiap kita menerima rezeki hakikatnya ada sebagian hak orang-orang yang tidak mampu ada pada harta kita. Perhitungannya di beberapa jenis zakat adalah 2,5% jika sudah mencapai nisabnya. Untuk zakat profesi nisabnya setara 520kg beras.

Menurut Yusuf Qardhawi ada 2 cara perhitungan zakat profesi seperti EYD kutip dibawah ini:

1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor seara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 3.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% X 3.000.000=Rp 75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.

2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang penghasilannya pas-pasan. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% X (1.500.000-1.000.000)=Rp 12.500 per bulan atau Rp 150.000,- per tahun.

Terlepas dari beberapa metode yang ada, EYD lebih condong ke nomer 1 yakni 2,5% dihitung dari pendapatan kotor.

Dengan pemahaman bahwa ada hak orang fakir miskin dalam setiap harta rezeki yang kita dapat, maka apapun yang kita dapatkan dalam satu bulan misalnya akan lebih baik lagi jika dimasukkan dalam perhitungan zakat penghasilan. Seperti contoh misalkan bro sis memiliki gaji kotor sebesar Rp. 3.000.000, zakat profesinya 2,5% sebesar Rp. 75.000, lalu dalam bulan tersebut dia mendapatkan uang tambahan dari usaha sampingan misal Rp. 500.000,- ambil 2,5% darinya maka keluar Rp.12.500,- Nah tinggal ditambahkan ke zakat profesi tadi sehingga yang dikelurkan total menjadi Rp. 87.500,- Akadnya waktu penyerahan ke amil zakat adalah sebagai zakat profesi. Kalau sudah begini adem rasanya bathin plong bisa menggunakan harta kita tersisa yang telah bersih.

Kembali ke judul artikel ini, jika bro sis sudah terbiasa mengeluarkan zakat, baik zakat apapun itu termasuk zakat profesi, dari bulan ke bulan, waktu demi waktu secara istiqomah mengeluarkan zakat, maka coba rasakan bathin bro sis akan memiliki semacam sense dalam menilai sebuah harta. Lebih memiliki kehati-hatian dalam melihat harta, bisa membedakan mana yang haram mana yang halal untuk kita konsumsi.

Contoh sederhana jika kita dititipkan uang baik oleh teman, mitra relasi, atau kantor sendiri insyallah tidak akan terbesit keinginan untuk korup, memanipulasi atau berlaku tidak jujur terhadap uang yang lewat melalui tangan kita. Hal ini karena kita sudah terbiasa melatih diri untuk memisahkan mana harta yang suci, mana harta yang bukan hak kita melalui istiqomah dalam membayar zakat.

Last, bagi bro sis yang ingin punya sense bathin untuk selalu terbiasa mengkonsumsi dari harta yang bersih, cobalah mulai dari yang simpel dengan istiqomah membayar zakat penghasilan bro sis setiap bulannya, insyaallah akan selalu menemukan perkara yang membawa keberkahan. Semoga bermanfaat. [EYD]

This entry was posted in Inspirasi, Mengaji and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *